Hari ini tergerak untuk menempuh perjalanan jauh yang tidak biasanya, berbekal keluhan demi keluhan kulontarkan dalam hati, kenapa Aku harus rela menunggu bus 13C Di stasiun busway semanggi. Setelah sekitar satu jam Aku mengutuki semua bus nomor 1 jurusan Kota -Blok M yang silih berganti melintas. Sepi, ramai, sepi lagi, ramai lagi. Dimana bus nomor 13c jurusan puri beta? Setelah berbekal tekad yang mulai padam, Aku bertanya kepada mbak-mbak berbaju biru. Apakah bus 13c lewat disini? Ternyata tidak, Aku harus Naik dari stasiun karet sudirman. Ya, stasiun lain. Dengan langkah gontai Aku melanjutkan perjalanan lagi. Setengah jam berlalu, akhirnya penantianku berujung, akhirnya aku naik bus juga. Dengan mata setengah merah dan waktu di jamku menunjukan pukul sembilan malam.
Tak berhentinya Aku mengutuki kebodohanku kenapa tidak naik bus 9e jurusan kebayoran saja? Tapi yasudahlah Aku berusaha bersyukur menikmati perjalanan ini, melewati kapten tendean, mayestik, dan pemandangan gandaria city dari jauh. Banyak Memori yang sudah Aku lewati Di tempat-tempat itu. Keluhan berakhir menjadi kilasan-kilasan Memori di masa lalu. Ada yang bahagia, adapula yang menyedihkan. yah inilah hidup di Jakarta, setelah hampir 10 tahun aku tidak pernah menaiki kendaraan umum. Aku menikmati perjalanan ini pada akhirnya.
Setelah turun di kebayoran lama, akupun berganti menaiki angkut c05, dengan nafas dan badan yang pegal aku mengamati keadaan sekitarku. Mimpi apa Aku bisa ke daerah ini lagi? Angkot pun menepi, segerombolan anak baru gede, mungkin berumur belum genap 20 tahun yang berada di balik kemudi angkot. Ia bersama 2 orang teman2nya lagi duduk di kursi depan, menyetel lagu-lagu melayu tiktok teranyar. Ah, betapa sederhananya kebahagiaan untuk mereka.
Akupun bertanya-tanya apa ada kejutan lagi untukku malam ini? Setelah aku harus menunggu berjam-jam.
Angkot tiba-tiba berhenti, sepasang anak muda mungkin juga belum genap berumur 20an, dengan raut wajah layu tapi bersemangat. Mereka menaikkan ondel-ondel dan seperangkat sound sistem ondel-ondel masuk dalam angkot, sambil meminta maaf dengan sopan kepadaku. Maaf ya kak, jadi lama. Dengan senyum yang tertutup masker akupun menjawab tidak apa-apa de.
Akupun mengamati mereka, sepasang sejoli yang sangat muda, Aku berada di tengah generasi Z kalau kata orang Kota. Mereka berdua sepertinya sepasang suami istri muda, Aku bisa melihat tatapan mesra mereka berdua. Mereka berbicara satu sama lain dengan semangat bahwa hari ini cukup menyenangkan dan pendapatan mereka lumayan.
Aku membayangkan betapa lelahnya mereka harus berjalan berkilo-kilo meter dengan ondel-ondel yang dinaikkan diatas angkot itu. Sang suami muda yang berada di dalam ondel-ondel pengap itu dan istrinya mendorong sound sistem ondel-ondel yang terlihat berat. Aku yang hanya menunggu Di terminal busway satu jam saja sudah mencak-mencak.
Malam ini aku melihat ketulusan dari tatapan dua anak remaja ini, mereka bahkan bersenda gurau, merencanakan makan malam apa nanti, apa pakai telur atau sayur yang dibeli di warung tegal, berandai-andai jika sang istri kelak hamil dan pergi ke puskesmas bersama. Betapa sederhananya kebahagiaan mereka tanpa memperdulikan rasa lelah mereka yang terlihat dari luka-luka lecet di sela sendal jepit mereka. Ingin rasanya kuabadikan tatapan mereka dalam foto atau film.
Sekali lagi aku bersyukur bisa dipertemukan dengan anak-anak remaja ini, mereka tidak kenal lelah untuk mencari nafkah demi masa depan mereka yang mungkin bagi banyak orang perkataan diolok-olok, bahkan direndahkan. Akupun terkadang mengabaikan ondel-ondel yang lewat, bahkan enggan untuk memberi seribu dua ribu untuk mereka.
Akupun tersadar, cinta itu ada dalam kesederhanaan, Aku yang mulai pahit lagi melihat cinta menjadi tercerahkan kembali. Cinta itu bisa hadir dimanapun, membuat hidup kita yang berat menjadi lebih ringan, bahkan di keadaan tersulit pun. Aku tidak akan menyerah untuk mencari cinta. Walaupun sudah puluhan kali dikhianati dan ditinggalkan. Aku percaya cinta itu ada, cinta itu bisa hadir jika Kita mampu untuk melihatnya dengan kacamata kesederhanaan.
Bagi cinta yang silih berganti pergi dari hidupku, tak ada satupun yang kusesali, mungkin memang waktu belum berpihak padaku atau mungkin orang-orang yang pernah ada dalam hidupku sudah menyerah dengan cinta (atau mungkin dengan sifatku?). Cinta bisa datang kapanpun dan aku akan terus mempercayainya. Karena cinta bukan hanya dalam bahagia tapi dalam susah.
Pada akhirnya cinta hanya akan diuji oleh waktu dan kemauan untuk bertahan bersama.
Malam yang ajaib. Terima kasih dik, sudah menginspirasiku lagi.